-->

Sembahyang Duanyang

 


1.  Sejarah dan Waktu Pelaksanaan 

Sembahyang Duanyang dilaksanakan setiap Tanggal 5 bulan 5 Kongzili (Wuyue Chuwu). Waktu pelaksanaan sembahyang Duanyang adalah saat Wushi (jam 11.00 - 13 00). Isitilah Duanyang  berdasarkan etimologi huruf: Duan = Ekstrim, Yang = matahari. Jadi Duanyang adalah saat matahari di posisi yang ekstrim. Hari Raya ini disebut juga Duanwu  yaitu saat  Wushi (waktu antara pukul 11.00 – 13.00) yang berarti waktu siang hari.  Ekstrim yang dimaksud adalah saat  tarik-menarik antara matahari, bulan, dan bumi begitu kuat (karena kondisi itu bahkan telur lebih mudah didirikan).
 

2.  Makna Sembahyang Duanyang 

Upacara sembahyang Duanyang merupakan upacara eling dan takwa untuk hari yang  penuh fenomena. Namun di samping fenomena alam yang ektrim seperti dijelaskan di atas, pada saat yang bersamaan energi (Qi) matahari memiliki kekuatan yang besar dan sangat positif. Keadaan ini dinyakini, misalnya, tumbuh-tumbuhan herbal untuk obat menjadi lebih berkasiat. 

Karena alasan itu pula (khususnya pada saat Duanwu) selanjutnya timbul kepercayaan bahwa pada saat ini segala makhluk dan benda mendapat curahan kekuatan paling besar. Masyarakat luas percaya bahwa ramuan obat-obatan yang dijemur pada saat itu akan besar khasiatnya. Makna agamis dari Duanyang adalah agar kita sebagai umat selalu diingatkan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari Alam semesta, dan manusia harus selalu takwa terhadap apapun yang terjadi (fenomena  alam/bencana alam).

3.  Hari Mengenang Qu Yuan 

Saat Duanyang juga bersamaan dengan saat memperingati  tokoh suci Qu Yuan seorang menteri setia dari negeri Chu pada zaman Zhanguo (perang tujuh negara). Dikisahkan sebagai berikut: Dinasti Zhou pada zaman Zhanguo atau Zaman peperangan (403221 SM.)  Dinasti Zhou sudah tidak berarti lagi sebagai pusat Negara; pada zaman itu ada tujuh Negara yang besar, yakni negeri Qi, Chu,Yan, Han, Zhao, Wei, dan Qin. Negeri Qin  adalah yang paling kuat dan agresif, sehingga keenam negari yang lain sering bersatu untuk bersama-sama menghadapi negeri Qin. Qu Yuan ialah seorang menteri besar dan setia dari negeri Chu (340278 SM.). Beliau ialah seorang tokoh yang paling berhasil menyatukan keenam negeri itu untuk menghadapi negeri Qin, namanya sangat disegani di negeri Qin. Beliau pernah menghalangi Raja Chu Huaiwang untuk memenuhi undangan raja dari negeri Qin ke kota Boe Kwan. Sayang sekali Raja Chu Huaiwang tidak memperhatikan nasihat Beliau, bahkan menghukumnya. Akibatnya menimbulkan malapetaka bagi raja sendiri, karena kelicikan menteri-menteri dari negeri Chu yang tidak senang terhadap Quyuan, seperti Khin Siang, Kong Cu Lan, Siang Kwan Tayhu, dan lain-lain. Orang-orang dari Negeri Qin terus berusaha menjatuhkan nama baik Qu Yuan, terutama kehadapan raja Negeri Chu yaitu Chu Huaiwang. Dengan bantuan menteri-menteri dari Nageri Chu yang tidak senang terhadap Qu Yuan, seorang  menteri negeri Qin yang cerdik dan licik, berhasil meretakan hubungan Qu Yuan dengan raja Negeri Chu; Qu Yuan dipecat dari jabatannya. Hal ini membuat persatuan  keenam negeri itu menjadi berantakan. Raja Chu Huaiwang  bahkan terbujuk oleh janjijanji yang menyenangkan, sehingga mau datang ke negeri Qin, tetapi di negeri Qin Raja Chu Huaiwang   ditawan. Chu Huaiwang menyesali perbuatannya sampai Beliau mangkat.

Setelah Chu Huaiwang mangkat di Negeri Qin, kini Chu Qing Xiangwang naik tahta menggantikan Chu Huaiwang. Raja Chu Qing Xiangwang  memberi kepercayaan kembali kepada Quyuan. Keenam negeri dapat dipersatukan kembali sekalipun tidak sekokoh dahulu, selanjutnya Quyuan berusaha mendorong Chu Qing Xiangwang memperkokoh kekuatan militernya untuk barisan berkuda, dengan tujuan menaikan martabat negaranya dan menghindarkan rakyat dari angkara murka raja dari negeri Qin.  Tetapi saran-sarannya tidak ada yang dilaksanakan, bahkan menimbulkan dendam menteri-menteri dari Negeri Qin. Mereka selalu berusaha menghalangi Qu Yuan yang senantiasa mengobarkan semangat raja Chu Qing Xiangwang  untuk melawan Negeri Qin. Pada tahun 293 SM. Negeri Han dan Wei yang melawan Negeri Qin dihancurkan dan dibinasakan. Dengan adanya peristiwa ini Quyuan kembali    difitnah    dengan    tuduhan    akan    membawa    Negeri    Chu mengalami nasib seperti negeri Han dan Wei. Chu Qing Xiangwang ternyata lebih buruk kebijaksanaannya dari raja yang terdahulu (Chu Huaiwang). Ia tidak hanya memecat Quyuan, tetapi  juga memberikan hukuman dengan membuang Qu Yuan ke daerah danau Tongting dekat sungai Miluo. Qu Yuan yang bercita-cita berbakti kepada Negara, menolong rakyat, yang dipenuhi semangat memakmurkan Negara dan membuat Negara menjadi sentosa, tetapi ternyata Beliau mendapatkan hukuman. Di tempat pembuangan ini, Qu Yuan hampir tidak tahan dan sedih terhadap keadaan yang  menyengsarakan. Hanya berkat kebijaksanaan kakak perempuannya yang bernama Khut Su, Beliau dapat tentram dan rela menerima keadaan itu. Pada saat itu selanjutnya Qu Yuan mendapat kenalan seorang nelayan yang ternyata orang pandai yang menyembunyikan diri dan hidup sebagai nelayan. Orang itu menyembunyikan nama  sebenarnya, dan hanya menyebut dirinya sebagai Yufu yang artinya bapak nelayan.

Dengan Yufu inilah Qu Yuan mendapatkan kawan bercakap-cakap, walaupun pandangan hidupnya tidak sejalan. Nelayan itu mempunyai pendoman meninggalkan hidup bermasyarakat  yang buruk keadaannya itu, sedangkan Qu Yuan ingin terus mengembangkan jalan suci nabi bagi kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat banyak. Demikianlah Qu Yuan sangat akrab dengan nelayan itu. Ketentraman Qu Yuan itu ternyata dihancurkan oleh berita hancurnya ibu kota negeri Chu, tempat Miao (Kuil) leluhurnya itu, karena diserbu orang-orang dari Negeri Qin. Hal itu menjadikan Qu Yuan yang telah lanjut usia itu merasa tiada arti lagi hidupnya, setelah dirundung kebingungan dan kesedihan. Beliau memutuskan menjadikan dirinya  yang telah tua itu sebagai tugu peringatan bagi rakyat akan peristiwa yang sangat menyedihkan atas tanah  air dan negerinya itu, dengan harapan dapat membangkitkan  semangat rakyat untuk menegakan kebenaran dan mencuci bersih aib yang menimpa negerinya. Ketika itu saat hari  Suci Duanyang, Beliau mendayung perahunya ke tengah-tengah sungai Miluo (di provinsi Hunan), dinyanyikan sajaksajak ciptaannya yang telah dikenal rakyat sekitarnya, yang mencurahkan kecintaannya kepada tanah air dan rakyatnya, rakyat banyak  tertegun mendengar semuanya itu. Pada saat Beliau sampai ke tempat yang jauh dari kerumunan orang, Beliau menerjunkan diri ke dalam sungai yang deras  alirannya dan dalam itu. Beberapa orang yang mengetahuinya segera berusaha menolongnya, tetapi hasilnya nihil. Seharian Yufu, nelayan kawan Qu Yuan itu dengan perahuperahu mengerahkan kawan-kawannya untuk mencari Qu Yuan, namun hasilnya sia-sia belaka. Di tahun kedua pada saat Duanyang, ketika kembali orang merayakan Hari Suci Duanyang, Yufu telah membawa sebuah tempurung bambu, berisi beras dituangkan ke dalam sungai, untuk mengenang kembali dan menghormati Qu Yuan. Banyak orang yang mengikuti jejak Yufu. Lebih dari itu, untuk mengenang Qu Yuan para nelayan sungai Miluo mengadakan lomba perahu naga pada saat sembahyang Duanyang. Perayaan lomba perahu naga ini selanjutnya dikenal orang sebagai perayaan Bachuan (mendayung perahu).

Pada tahun-tahun berikutnya kebiasaan mempersembahkan beras di  dalam tempurung bambu itu diganti dengan kue dari beras ketan yang dibungkus daun bambu yang di sini kita kenal dengan nama bacang dan kuecang. Diadakan perlombaanperlombaan perahu yang dihiasi gambar-gamabar naga (Liongcun) yang mengingatkan usaha mencari jenasah  Qu Yuan pencinta negeri, Sastrawan dan pecinta rakyat itu. Demikian setiap hari Duanyang selalu diadakan pula peringatan untuk Qu Yuan, seorang  yang berjiwa mulia dan lurus dari negeri Chu itu.

4.  Nilai Keteladanan Qu Yuan 

Keteladanan Qu Yuan yang rela mengorbankan hidupnya sebagai perwujudan cintanya yang amat mendalam akan nasib bangsa dan negaranya, kiranya perlu dijadikan contoh bagi siapa saja yang mengaku dirinya sebagai warga bangsa, apalagi bagi mereka yang mengaku dirinya sebagai seorang pemimpin. Ketika negaranya sedang menghadapi bahaya, dengan berani dan penuh cinta ia memberi nasihat yang jujur kepada pimpinannya.  Risiko diabaikan, disingkirkan, atau bahkan dibuang tidaklah membuatnya berubah haluan, meski sebelumnya pernah mengalami nasib yang pahit dan tidak dipedulikan pimpinannya.  Ketika sudah dibuang dan dikecewakan pimpinannya, rasa cintanya terhadap negaranya tidaklah luntur.  Ia tetap memikirkan yang terbaik bagi negaranya sampai detik terakhir.  Pengorbanan hidupnya pun, tidaklah sia-sia dan belakangan terbukti menjadi salah satu prasasti bagi semangat patriotisme dan moralitas berbangsa. Meski harus hidup terlunta-lunta, terbuang dan bahkan mati tanpa meninggalkan jasad, namun sejarah tetap mencatatnya sebagai seorang yang perlu diteladani oleh generasi sesudahnya.  Bandingkan dengan kehidupan sang raja Cho sendiri?  Meski kedudukan formalnya lebih tinggi, namun dalam catatan sejarah nama Qu Yuan  tetap dikenang dan mendapat penghargaan yang lebih. Kalau dikaji secara lebih mendalam, bahwa upaya pencarian Qu Yuan  pada saat Duanyang berlomba-lomba mencari kembali nilai-nilai moralitas yang diteladankan Qu Yuan.  Sebenarnya makna perlombaan itu harus ditafsirkan sebagai perlombaan mencari nilai-nilai moral.  Perlombaan untuk menanam Kebajikan dalam setiap tingkah laku kita sebagai manusia. Qu Yuan secara badani memang telah mati ribuan tahun yang lalu.  Namun Qu Yuan secara spirit dan nilai-nilai tetap hidup dan perlu terus dihidupkan.  Ini yang seharusnya menjadi target atau tujuan kemanusiaan.  Di samping hidup lurus selaras Firman Tian, selalu bersyukur dan mawas diri, bersahabat dengan alam, juga wajib menjunjung tinggi moralitas dan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

5.  Surat Doa Sembahyang Duanyang 

Puji dan Syukur kami naikan bahwa Tian Yang Maha Esa berkenan  kami berhimpun pada saat Duanyang, hari suci yang melambangkan rakhmat yang berlimbah atas dunia dan penghidupan ini. Semoga upacara suci ini meneguhkan Iman kami untuk senantiasa hidup di dalam kebajikan; Suci di dalam pikiran, ucapan maupun perbuatan; menghayati betapa Mahabesar, Mahakasih Tian atas segenap makhluk. Berkembanglah rasa syukur serta teguh menerima kenyataan hidup. Tumbuhlah kesadaran hormat kepada Tian dan siap menegakan Firman di dalam penghidupan, sehingga boleh menerima berkah sentosa dan bahagia. Pada saat suci ini, kami kenangkan pula Qu Yuan patriot suci  yang telah mengabdikan diri sepanjang hidupnya bagi Jalan Suci dan Kebajikan serta rela mengorbankan diri demi Iman dan satyanya kepada Firman Tian dan Cinta kasihnya kepada sesama. Semoga semangat suci itu tumbuh dan subur berkembang pula di dalam diri kami masingmasing. Shanzai



Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Our Akuntansi


0 komentar:

Post a Comment