Menganalisis Kelayakan Usaha Agribisnis Pembibitan Ruminansia Pedaging
Analisis kelayakan usaha pembibitan sapi dilakukan untuk melihat aspek-aspek yang secara bersama-sama menentukan bagaimana keuntungan yang diperoleh dari suatu penanaman investasi dalam usaha breeding sapi potong. Aspek-aspek yang akan diamati dalam usaha breeding sapi potong
meliputi aspek teknis, aspek manajemen, aspek pasar, aspek sosial dan aspek finansial.
Perhitungan aspek finansial menggunakan kriteria investasi yang digunakan untuk menyatakan layak atau tidaknya suatu usaha pembibitan yaitu NPV, IRR, Net B/C ratio dan Payback Period. Selain kriteria investasi, juga digunakan analisis sensitivitas untuk mengetahui tingkat kepekaan kegiatan pembibitan sapi potong terhadap keadaan yang berubah-ubah. Dari hasil analisis aspek finansial akan diketahui seberapa besar keuntungan yang diperoleh petani dan kegiatan mana yang paling menguntungkan pada kondisi sekarang, apakah kegiatan pembibitan, kegiatan penggemukkan, atau kegiatan pembibitan dan penggemukkan dilakukan secara bersamaan.
Kajian kelayakan terhadap usaha pembibitan ruminansia adalah menggunakan analisis finansial dengan kriteria investasi yaitu : NPV (Net Present Value), BCR (Benefit Cost Ratio), IRR (Internal Rate of Return) dan PBP (Payback Periode). Selain itu juga dilakukan analisis sensitivitas untuk melihat kelayakan usaha pembibitan ruminansia dalam menghadapi beberapa perubahan yang terjadi, baik perubahan harga input maupun output. Apabila hasil analisis menunjukkan hasil sesuai dengan kriteria kelayakan, maka usaha tersebut layak untuk dijalankan/diusahakan untuk kemudian dilakukan pengembangan usaha pembibitan ruminansia dan sebaliknya.
- Biaya dan Penerimaan
Biaya bagi perusahaan adalah nilai faktor-faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan output (Boediono, 1990).
Analisis Finansial
Dalam melakukan studi kelayakan, aspek finansial merupakan faktor yang menentukan, artinya betapapun aspek-aspek lain mendukung namun kalau tidak tersedia dana maka akan sia-sia. Aspek finansial berkaitan dengan bagaimana menentukan kebutuhan jumlah dana dan sekaligus pengalokasiannya serta mencari sumber dana yang bersangkutan secara efisien, sehingga memberikan tingkat keuntungan yang menjanjikan bagi investor (Suratman, 2001).Menurut Nitisemito dan Burhan (1995), kelayakan dari suatu kegiatan usaha diperhitungkan atas dasar besarnya laba finansial yang diharapkan. Kegiatan usaha dikatakan layak jika memberikan keuntungan finansial, sebaliknya kegiatan usaha dikatakan tidak layak apabila usaha tersebut tidak memberikan keuntungan finansial (Gittinger, 1986). Tingkat kelayakan suatu usaha dapat dinilai dengan menggunakan kriteria-kriteria investasi : (a) Net Present Value(NPV); (b) Internal Rate of return (IRR); (c) Benefit Cost Ratio (BCR).
(a) Net Present Value (NPV)
NPV (Net Present Value) adalah salah satu kriteria yang banyak digunakan untuk menentukan apakah rencana usaha tersebut layak (feasible) untuk dilaksanakan atau tidak. NPV merupakan selisih antara present value dari benefit dan peresent Value dari biaya.
Perhitungan NPV adalah menghitung arus pendapatan (net benefit) yang telah didiskon dengan menggunakan social opportunity cost of capital (SOCC) sebagai discount factor.
Cara perhitungan adalah sebagai berikut:
Apabila NPV > 0 (lebih besar dari nol), maka rencana usaha atau proyek tersebut dikatakan feasible (go) untuk dilaksanakan. Tetapi apabila NPV < 0 (lebih kecil dari nol), maka rencana usaha tersebut berada dalam keadaan impas (break even). Dimana jumlah penerimaan sama besarnya dengan jumlah pengeluaran (TR = TC). Menurut Gittinger (1986), suatu usaha dinyatakan layak jika NPV > 0. jika NPV = 0, berarti usaha tersebut tidak untung maupun rugi. Jika NPV < 0 , maka usaha tersebut merugikan sehingga lebih baik tidak dilaksanakan.
(b) Internal Rate of Return (IRR)
IRR adalah tingkat kamampuan suatu proyek dalam mengembalikan modal pinjaman. IRR adalah nilai discount rate yang membuat NPV dari proyek sama dengan nol. Jika ternyata IRR dari suatu proyek sama dengan yang berlaku sebagai social discount rate , maka NPV dari proyek itu sebesar 0. Jika IRR ≥ social discount rate, maka usaha tersebut dinyatakan layak. Sedangkan jika IRR < social discount rate-nya maka usaha tersebut sebaiknya tidak dilaksanakan (Gittinger, 1986).
(c) Benefit Cost Ratio (BCR)
Benefit Cost Ratio (BCR) adalah perbandingan antara present value manfaat dengan present value biaya. Dengan demikian benefit cost ratio menunjukkan manfaat yang diperoleh setiap penambahan satu rupiah pengeluaran. BCR akan menggambarkan keuntungan dan layak dilaksanakan jika mempunyai BCR > 1. Apabila BCR = 1, maka usaha tersebut tidak untung dan tidak rugi, sehingga terserah kepada penilai pengambil keputusan dilaksanakan atau tidak. Apabila BCR < 1 maka usaha tersebut merugikan sehingga lebih baik tidak dilaksanakan (Gittinger, 1986).
(d) Pay Back Periode (PBP)
Pay Back Periode atau periode pengembalian modal (PPM) diartikan sebagai jangka waktu yang diperlukan oleh sebuah usaha untuk mengembalikan seluruh dana yang diinvestasikan, yaitu merupakan ukuran lamanya waktu yang diperlukan agar seluruh modal yang ditanamkan dapat dikembalikan/dibayar oleh manfaat yang dihasilkan oleh investasi tersebut. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pengembalian investasi akan berkaitan dengan tingkat resiko, maka periode pengembalian modal dapat pula dijadikan alat untuk mengukur resiko. Semakin cepat modal yang ditanamkan dapat dikembalikan oleh manfaat, maka semakin rendah resiko dari investasi tersebut. Apabila suatu alternatif memiliki masa ekonomis lebih besar dari periode pengembalian, maka alternatif tersebut layak, sebaliknya bila periode pengembalian lebih besar dari estimasi masa pakai suatu alat atau umur suatu investasi maka investasi tidak layak diterima
Dalam suatu rencana usaha lama waktu pengembalian investasi seringkali dijadikan sebagai salah satu penilaian/indikator kelayakan investasi. Pay Back Period (PBP) adalah jangka waktu pengembalian biaya investasi yang merupakan nilai kumulatif dari arus penerimaan (benefit). Semakin cepat suatu rencana usaha dapat mengembalikan biaya investasi maka semakin cepat pula suatu usaha dapat menghasilkan keuntungan. Apabila suatu usaha yang direncanakan, pengembalian investasinya lambat maka beban yang harus ditanggung atas sejumlah dana investasi menjadi berat terutama apabila dana investasi berasal dari dana pinjaman, karena ada sejumlah beban bunga pinjaman yang harus dibayarkan. Pay back period adalah jangka waktu tertentu yang menunjukkan adanya arus penerimaan (cash In flows) secara kumulatif sama dengan jumlah investasi.
Secara matematis PBP dapat dihitung sebagai berikut:
(e) Break Even Point (BEP)
Break Even Point adalah volume keseimbangan dimana besarnya penjualan tanpa menderita kerugian atau memperoleh laba dan menutup semua biaya yang telah dikeluarkan. Dari pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa perusahaan dikatakan mencapai break even point apabila dalam suatu periode kerja tidak memperoleh laba tetapi juga tidak menderita kerugian dimana laba adalah nol. Jadi dapat dikatakan break even point merupakan hubungan antara volume penjualan, biaya dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada tingkat penjualan tertentu, sehingga analisis break even point ini sering disebut dengan cost, volume, profit analisis.
Break even point (titik impas) adalah suatu titik keseimbangan dimana total benefit sama besarnya dengan total pengeluaran Penghitungan BEP dalam suatu studi kelayakan bisnis bertujuan untuk menentukan berapa lama waktu yang diperlukan proyek/usaha untuk dapat menutup seluruh biaya. Pada tahap awal kita harus menentukan pada tahun ke berapa total penerimaan (benefit kumulatif) mulai dapat menutup total biaya (biaya kumulatif). Baru kemudian melalui teknik interpolasi dicari tepatnya waktu saat posisi TB = TC. Dengan menggunakan persamaan berikut:
Asumsi-Asumsi Usaha Pembibitan Sapi
Asumsi-Asumsi dalam Usaha Pembibitan Sapi, misalnya sapi Bali Adalah :1. Lahan yang digunakan merupakan tanah pekarangan yang belum dimanfaatkan dan tidak diperhitungkan untuk sewa lahannya.
2. Sapi bibit yang dipelihara sebanyak 20 ekor jenis bibit Sapi Bali dengan harga awal Rp. 4.000.000/ekor dan sapi sudah bunting atau siap kawin, dipakai sebagai bibit selama 5 tahun atau 5x beranak dengan asumsi sapi dipelihara selama 1 tahun dan menghasilkan 1 ekor pedet.
3. Biaya Pembangunan Kandang Sebesar Rp. 25.000.000,00 dengan usia ekonomis selama 10 tahun dan dihitung biaya penyusutan 10% pertahun menetap.
4. Biaya Pembangunan Gudang Pakan Sebesar Rp. 8.000.000,00
5. Biaya Pembangunan Gudang Kompos Sebesar Rp. 8.000.000,00
6. Biaya Pembangunan Unit Bio Urine Sebesar Rp. 8.500.000,00
7. Peralatan usaha dibutuhkan sebesar Rp 250.000/tahun,
8. Jasa Petugas IB Rp. 50.000,-/Straw dengan asumsi sekali IB langsung Bunting, dengan prosentase mortalitas kelahiran pedet jantan dan betina = 50:50 (%)
9. Sapi membutuhkan Vitamin dan obat-obatan sebesar Rp. 10.000/ekor/Bulan
10. Kotoran yang dihasilkan selama 1 periode sebanyak 36.000 kg kering dengan harga Rp. 1000/kg
11. Bio Urine yang dihasilkan selama 1 periode sebanyak 36.000 Liter dengan harga Rp. 500/Liter
12. Diberi Pakan Tambahan berupa mineral : 1 kg x 20kor x 12 bulan dengan harga Rp. 5.000/Kg
13. Tidak membebankan biaya pakaan, mengingat pakan diberikan langsung oleh anggota yang memelihara sapi tersebut.
14. Biaya pembangunan biogas tidak dihitung.
15. Biaya-biaya investasi diperoleh dari bantuan program pemerintah sebagai modal awal dengan asumsi tanpa pengembalian baik pokok dan bunga modal.
16. Biaya-biaya investasi ditaksir dengan usia ekonomis selama 10 tahun dan dihitung biaya penyusutan 10% pertahun menetap.
Aspek Teknis Usaha Pembibitan Sapi
Dari Asumsi-asumsi diatas maka dapat kita tuangkan kedalam aspek teknis dalam usaha Pembibitan Sapi Bali.Analisis Keuangan Usaha Pembibitan Sapi
Dari Aspek teknis diatas maka dapat kami gambarkan aspek analisis keuangan dari Pembbibitan sapi bali adalah sebagai berikut :Analisi Cashflow Usaha Pembibitan Sapi Bali
Analisis cashflow ini menggambarkan nilai investasi yang telah dilakukan berikut keuntungan/kerugian yang telah diperoleh oleh kelompokSumber :
Direktorat Pembinaan SMK. Agribisnis Pembibitan Ternak Ruminansia Untuk Kelas 11 Semester 3. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2013
0 komentar:
Post a Comment