Kemiringan/kelerengan lahan dan garis kontur
Dua hal tersebut merupakan pengetahuan
dasar yang harus dikuasai bagi orang yang akan melakukan
kegiatan konservasi tanah dan air. Air selalu mengalir kearah bawah karena faktor masa dan gravitasi
bumi. Didalam kegiatan konservasi tanah dan air,
kemiringan/kelerengan lahan umumnya menjadi patokan untuk
merancang kegiatannya dalam rangka mengurangi kecepatan aliran
air, separti dalam pembuatan teras, saluran pembuangan, embung
dan lain-lain. Oleh karena itu pemahaman tentang
kemiringan/kelerengan lahan menjadi penting untuk dipahami. Kemiringan lahan adalah besaran yang dinyatakan dalam derajat /
persen (%) menunjukkan sudut yang dibentuk oleh perbedaan
tinggi tempat .
Umumnya kemiringan lahan digolongkan dalam 7 (tujuh) kelas sebagai berikut:
1) Datar : kemringan lahan antara 0 – 3%
2) Landai/ berombak : kemiringan lahan antara 3 – 8%
3) Bergelombang : kemiringan lahan antara 8 – 15%
4) Berbukit : kemiringan lahan antara 15 – 30%
5) Agak Curam : kemiringan lahan antara 30 – 45%
6) Curam : kemiringan lahan antara 45 – 65%
7) Sangat Curam : kemiringan lahan antara > 65%
Disamping dinyatakan dalam persentase, kelerengan seringkali juga dinyatakan dalam derajat. Kemiringan 100 % sama dengan kemiringan 45 derajat. Dengan demikian kemiringan 50 % sama dengan 22,5 derajat. Namun demikian para petani penanam sayursayuran (seperti kentang, wortel, kacang-kacangan, ketela dan sejenisnya) dimana tanaman ini relatif tidak tahan terhadap tanah berair mendorong maka mereka kurang menyukai pembuatan teras. Kondisi seperti ini menjadi dilema atau problema di beberapa daerah pegunungan di Pulau Jawa, karena kepentingan konservasi tanah dan air sangat sulit diterapkan.
Untuk menghindari terjadinya tanah basah/mengandung air, petani penanam sayur-sayuran seringkali membuat guludan, sayangnya seringkali guludan dibuat tidak sempurna misalnya mengarah lereng, sehingga menyebabkan terjadinya erosi. Para petani penanam sayur seringkali sulit diarahkan untuk membuat teras karena teras dianggap menyebabkan tanah menjadi basah ketika hujan agak berlebihan. Bila hal ini terjadi petani khawatir kehilangan keuntungan karena nilai sayuran yang cukup tinggi. Disamping itu pembuatan teras memerlukan biaya yang relatif tinggi, sehingga minat membuat teras dari petani rendah. Untuk membantu memecahkan masalah tersebut perlu dilakukan pemilihan jenis komoditi tanaman buah-buahan atau pohonpohonan yang memiliki nilai kompetitif atau mirip tanaman sayuran agar petani tertarik dan konservasi tanah dan air berjalan baik, misalnya penanaman jambu biji dan sejenisnya. Dalam kegiatan konservasi tanah dan air umumnya garis kontur digunakan sebagai patokan didalam rancangan-rancangan teknis. Oleh karena itu tekni-teknik membuat garis kontur penting dipahami oleh para petani maupun petugas dilapangan. Para petani dan petugas lapangan umumnya menggunakan alat yang praktis dan sederhana dalam membuat garis kontur, misalnya ondol-ondol.
Umumnya kemiringan lahan digolongkan dalam 7 (tujuh) kelas sebagai berikut:
1) Datar : kemringan lahan antara 0 – 3%
2) Landai/ berombak : kemiringan lahan antara 3 – 8%
3) Bergelombang : kemiringan lahan antara 8 – 15%
4) Berbukit : kemiringan lahan antara 15 – 30%
5) Agak Curam : kemiringan lahan antara 30 – 45%
6) Curam : kemiringan lahan antara 45 – 65%
7) Sangat Curam : kemiringan lahan antara > 65%
Disamping dinyatakan dalam persentase, kelerengan seringkali juga dinyatakan dalam derajat. Kemiringan 100 % sama dengan kemiringan 45 derajat. Dengan demikian kemiringan 50 % sama dengan 22,5 derajat. Namun demikian para petani penanam sayursayuran (seperti kentang, wortel, kacang-kacangan, ketela dan sejenisnya) dimana tanaman ini relatif tidak tahan terhadap tanah berair mendorong maka mereka kurang menyukai pembuatan teras. Kondisi seperti ini menjadi dilema atau problema di beberapa daerah pegunungan di Pulau Jawa, karena kepentingan konservasi tanah dan air sangat sulit diterapkan.
Untuk menghindari terjadinya tanah basah/mengandung air, petani penanam sayur-sayuran seringkali membuat guludan, sayangnya seringkali guludan dibuat tidak sempurna misalnya mengarah lereng, sehingga menyebabkan terjadinya erosi. Para petani penanam sayur seringkali sulit diarahkan untuk membuat teras karena teras dianggap menyebabkan tanah menjadi basah ketika hujan agak berlebihan. Bila hal ini terjadi petani khawatir kehilangan keuntungan karena nilai sayuran yang cukup tinggi. Disamping itu pembuatan teras memerlukan biaya yang relatif tinggi, sehingga minat membuat teras dari petani rendah. Untuk membantu memecahkan masalah tersebut perlu dilakukan pemilihan jenis komoditi tanaman buah-buahan atau pohonpohonan yang memiliki nilai kompetitif atau mirip tanaman sayuran agar petani tertarik dan konservasi tanah dan air berjalan baik, misalnya penanaman jambu biji dan sejenisnya. Dalam kegiatan konservasi tanah dan air umumnya garis kontur digunakan sebagai patokan didalam rancangan-rancangan teknis. Oleh karena itu tekni-teknik membuat garis kontur penting dipahami oleh para petani maupun petugas dilapangan. Para petani dan petugas lapangan umumnya menggunakan alat yang praktis dan sederhana dalam membuat garis kontur, misalnya ondol-ondol.
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan
klik disini untuk berlangganan gratis via email, Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Our Akuntansi
0 komentar:
Post a Comment