FUNGSI BANGUNAN KOBHUNG DALAM TANEAN LANJANG BAGI MASYARAKAT TEBUL TIMUR KECAMATAN PEGANTENAN KABUPATEN PAMEKASAN MADURA JAWA TIMUR [SKRIPSI]
Permukiman tradisional masyarakat Madura memiliki ciri khas tersendiri
yang berbeda dengan permukiman – permukiman masyarakat lainnya, dan lebih
dikenal dengan model atau sebutan Tanean Lanjang. Konsep permukiman
Madura yang masih bisa ditemukan di desa Tebul Timur (Madura) adalah site
plan bangunan berkelompok dengan ciri khas masing – masing kelompok terdiri
dari bangunan rumah induk, dapur, kandang, Kobhung dan halaman yang
dikelilingi bangunan tersebut. Pola permukiman Tanean Lanjang memiliki
fenomena sosial yang sangat tinggi bagi masyarakat Madura, salah satu di antara
fenomena tersebut adalah langgar atau Kobhung.
Kobhung menempati posisi penting dalam Tanean Lanjang, karena
bangunan ini menjadi pusat Tanean. Hampir semua bangunan keluarga di Madura
memiliki Kobhung. Inilah yang unik di Madura, letaknya rata - rata di sebelah
barat, selain menandakan arah kiblat juga gampang mengawasi keamanan
lingkungan keluarga. Fungsi Kobhung lainnya sebagai tempat peristirahatan dan
berkumpulnya keluarga dan kerabat, juga sebagai tempat menerima tamu dan
tempat beribadah keluarga. Yang terpenting dari sekian banyak fungsi Kobhung
adalah sebagai pewaris nilai – nilai tradisi luhur masyarakat Madura. Nilai luhur
yang selalu ditekankan berupa kesopanan, kehormatan, dan agama.
Di pedesaan Madura secara umum, bangunan Kobhung hampir dapat
dipastikan ada pada setiap kelompok Tanean Lanjang dan sampai sekarang tetap
eksis menjalankan fungsinya. Begitu pentingnya bangunan ini sehingga ada
anggapan dalam masyarakat Madura bahwa Tanean tanpa Kobhung atau langgar
dianggap kurang lengkap, atau dengan istilah lain Camplang alias Ta’ Ghenna’.
Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bersifat kualitatif, karena
untuk mengetahui fungsi bangunan Kobhung ini penulis mengunakan pengamatan
dan wawancara langsung terhadap masyarakat Madura di desa Tebul Timur yang
memilki model Permukiman Tanean Lanjang. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode budaya, dan memakai pendekatan antropologi dan
historis.
Kobhung atau langgar yang merupakan budaya masyarakat Madura
sebagai sarana untuk melakukan aktifitas – aktifitas sosial dan keagamaan, maka
penulis mengunakan teori Emile Durkheim tentang fungsionalisme, Ia melihat
melalui konsep integrasi yang diartikan sebagai suatu keadaan keseimbangan.
Berkaitan dengan itu aliran fungsionalisme memberikan sorotan tersendiri serta
tekanan khusus atas apa yang ia lihat dari agama, jelas agama dilihat dari
fungsinya, agama dipandang sebagai suatu institusi yang lain, yang mengemban
tugas (fungsi) agar masyarakat berfungsi dengan baik.
SELENGKAP NYA : PDF
0 komentar:
Post a Comment