-->

UNSUR-UNSUR KETAHANAN NASIONAL


Apa sajakah unsur, elemen atau faktor yang dapat mempengaruhi
ketahanan nasional sebuah bangsa ?
Hans J Morgenthau dalam bukunya Politics Among Nations : The
Struggle for Power and Peace melakukan observasi atas tata kehidupan
nasional secara makro dilihat dari luar, sehingga ketahanan masyarakat
bangsa tertampilkan sebagai kekuatan nasional. Menurut Morgenthau (1989;
107-219), ada 2 (dua) faktor yang memberikan kekuatan bagi suatu negara,
yaitu : pertama, faktor-faktor yang relatif stabil (stable factors), terdiri atas
geografi dan sumber daya alam; dan kedua, faktor-faktor yang relatif berubah
(dinamic factors), terdiri atas kemampuan industri, militer, demografi,
karakter nasional, moral nasional, kualitas diplomasi dan kualitas pemerintah.
Alfred Thayer Mahan dalam bukunya The Influence Seapower on
History, mengatakan bahwa kekuatan nasional suatu bangsa dapat dipenuhi
apabila bangsa tersebut memenuhi unsur-unsur : letak geografi, bentuk atau
wujud bumi, luas wilayah, jumlah penduduk, watak nasional dan sifat
pemerintahan. Menurut Mahan kekuatan suatu negara tidak hanya tergantung
pada luas wilayah daratan, tetapi juga pada faktor luasnya akses ke laut dan
bentuk pantai dari wilayah negara. Sebagaimana diketahui Alferd T Mahan
termasuk pengembang teori geopolitik tentang penguasaan laut sebagai dasar
bagi penguasaan dunia. “Barang siapa menguasai lautan akan menguasai
kekayaan dunia” (Armaidy Armawi. 2012:9).
Cline dalam bukunya World Power Assesment, A Calculus of
Strategic Drift, melihat suatu negara sebagaimana dipersepsikan oleh negara
lain. Baginya hubungan antar negara amat dipengaruhi oleh persepsi suatu
negara terhadap negara lainnya, termasuk di dalamnya persepsi atas sistem
penangkalan dari negara tersebut. Kekuatan sebuah negara (sebagaimana
dipersepsikan oleh negara lain) merupakan akumulasi dari faktor-faktor
sebagai berikut : sinergi antara potensi demografi dengan geografi,
kemampuan militer, kemampuan ekonomi, strategi nasional, dan kemauan
nasional atau tekad rakyat untuk mewujudkan strategi nasional. Potensi
demografi dan geografi, kemampuan militer dan kemampuan ekonomi
merupakan faktor yang tangible, sedangkan strategi nasional dan kemauan
nasional merupakan intangible factors. Menurutnya, suatu negara akan
muncul sebagai kekuatan besar apabila ia memiliki potensi geografi besar
atau negara yang secara fisik wilayahnya luas dan memiliki sumber daya
manusia yang besar (Armaidy Armawi. 2012:10).
Para ahli lain, yang berpendapat tentang unsur-unsur yang
mempengaruhi ketahanan atau kekuatan nasional sebuah bangsa, ialah :
1. James Lee Ray
Unsur kekuatan nasional negara terbagi menjadi dua faktor, yaitu ;
a. Tangible factors terdiri atas : penduduk, kemampuan industri
dan militer
b. Intangible factors terdiri atas : karakter nasional, moral nasional
dan kualitas kepemimpinan
2. Palmer & Perkins
Unsur-unsur kekuatan nasional terdiri atas : tanah, sumber daya,
penduduk, teknologi, ideologi, moral dan kepemimpinan
3. Parakhas Chandra
Unsur-unsur kekuatan nasional terdiri atas tiga, yaitu :
a. Alamiah, terdiri atas : geografi, sumber daya dan penduduk
b. Sosial terdiri atas : perkembangan ekonomi, struktur politik,
dan budaya & moral nasional
c. Lain-lain : ide, intelegensi, diplomasi dan
kebijaksanaan kepemimpinan (Winarno,
2007: 176-177)
Akan halnya konsepsi Ketahanan Nasional Indonesia, dikemukakan
adanya sejumlah unsur atau faktor yang selanjutnya diistilahkan sebagai
gatra. Gatra Ketahanan Nasional Indonesia disebut Asta Gatra (delapan
gatra), yang terdiri atas Tri Gatra (tiga gatra) dan Panca Gatra (lima gatra).
Unsur atau gatra dalam Ketahanan Nasional Indonesia tersebut ada;ah
sebagai berikut; Tiga aspek kehidupan alamiah (tri gatra), yaitu :
a. Gatra letak dan kedudukan geografi
b. Gatra keadaan dan kekayaan alam
c. Gatra keadaan dan kemampuan penduduk
Lima aspek kehidupan sosial (panca gatra) yaitu :
a. Gatra ideologi
b. Gatra politik
c. Gatra ekonomi
d. Gatra sosial budaya (sosbud)
e. Gatra pertahanan dan keamanan (hankam)
Model Asta Gatra tersebut merupakan perangkat hubungan bidangbidang
kehidupan manusia dan budaya yang berlangsung di atas bumi ini
dengan memanfaatkan segala kekayaan alam yang dapat dicapai dengan
menggunakan kemampuannya. Model ini merupakan hasil kajian Lemhanas.
Adapun penjelasan dari masing-masing gatra adalah :
Gatra letak geografi atau wilayah menentukan kekuatan nasional
negara. Hal yang terkait dengan wilayah negara meliputi;
a. Bentuk wilayah negara : dapat berupa negara pantai, negara kepulauan
atau negara kontinental
b. Luas wilayah negara : ada negara dengan wilayah yang luas dan
negara dengan wilayah yang sempit (kecil)
c. Posisi geografis, astronomis, dan geologis negara
d. Daya dukung wilayah negara ; ada wilayah yang habittable dan ada
wilayah yang unhabittable
Dalam kaitannya dengan wilayah negara, pada masa sekarang perlu
dipertimbangankan adanya kemajuan teknologi transportasi, informasi dan
komunikasi. Suatu wilayah yang pada awalnya sama sekali tidak mendukung
kekuatan nasional, karena penggunaan teknologi bisa kemungkinan menjadi
unsur kekuatan nasional negara
Sumber kekayaan alam dalam suatu wilayah, baik kualitas maupun
kuantitasnya sangat diperlukan bagi kehidupan nasional. Oleh karena itu
keberadaannya perlu dijaga kelestariannya. Kedaulatan wilayah nasional,
merupakan sarana bagi tersedianya sumber kekayaan alam dan menjadi
modal dasar pembangunan. Selanjutnya pengelolaan dan pengembangan
sumber kekayaan alam merupakan salah satu indikator ketahanan nasional.
Hal-hal yang berkaitan dengan unsur sumber daya alam sebagai
elemen ketahanan nasional adalah meliputi :
a. Potensi sumber daya alam wilayah yang bersangkutan ; mencakup
sumber daya alam hewani, nabati, dan tambang
b. Kemampuan mengeksplorasi sumber daya alam
c. Pemanfaatan sumber daya alam dengan memperhitungkan masa depan
dan lingkungan hidup
d. Kontrol atas sumber daya alam
Gatra penduduk sangat besar pengaruhnya terhadap upaya membina
dan mengembangkan ketahanan nasional. Penduduk yang produktif, atau
yang sering disebut sebagai sumber daya manusia yang berkualitas,
mempunyai korelasi positif dalam pemanfaatan sumber daya alam serta
menjaga kelestarian lingkungan hidup (geografi), baik fisik maupun sosial.
Gatra ideologi menunjuk pada perangkat ideologis untuk
mempersatukan persepsi dan mempersatukan bangsa, yaitu Pancasila. Hal ini
dikarenakan bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki
keanekaragaman yang tinggi. Keadaan ini mempunyai dua peluang, yakni : di
satu sisi berpotensi perpecahan, dan di sisi lain sebagai kekayaan bangsa dan
menumbuhkan rasa kebanggaan, Unsur ideologi diperlukan untuk
mempersatukan bangsa yang beragam ini.
Gatra politik berkaitan dengan kemampuan mengelola nilai dan
sumber daya bersama agar tidak menimbulkan perpecahan, tetapi stabil dan
konstruktif untuk pembangunan. Politik yang stabil akan memberikan rasa
aman serta memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional, sehingga pada
gilirannya akan memantapkan ketahanan nasional suatu bangsa.
Ekonomi yang dijalankan oleh suatu negara merupakan kekuatan
nasional negara yang bersangkutan terlebih di era global sekarang ini. Bidang
ekonomi berperan langsung dalam upaya pemberian dan distribusi kebutuhan
warga negara. Kemajuan pesat di bidang ekonomi tentu saja menjadikan
negara yang bersangkutan tumbuh sebagai kekuatan dunia. Contoh Jepang,
dan Cina. Setiap negara memiliki sistem ekonomi tersendiri dalam rangka
mendukung kekuatan ekonomi bangsanya.
Dalam aspek sosial budaya, nilai-nilai sosial budaya hanya dapat
berkembang di dalam situasi aman dan damai. Tingginya nilai sosial budaya
biasanya mencerminkan tingkat kesejahteraan bangsa, baik fisik maupun
jiwanya. Sebaliknya keadaan sosial yang timpang dengan segala kontradiksi
didalamnya, memudahkan timbulnya ketegangan sosial. Kondisi sosial
budaya masyarakat Indonesia disokong dengan baik oleh seloka Bhinneka
Tunggal Ika. Selama seloka ini dijunjung tinggi maka ketahanan sosial
budaya masyarakata relatif terjaga.
Unsur pertahanan keamanan negara merupakan salah satu fungsi
pemerintahan negara. Negara dapat melibatkan rakyatnya dalam upaya
pertahanan negara sebagai bentuk dari hak dan kewajiban warga negara
dalam membela negara. Bangsa Indonesia dewasa ini menetapkan politik
pertahanan sesuai dengan Undang Undang No. 3 Tahun 2002 tentang
Pertahanan Negara. Pertahanan negara Indonesia bersifat semesta dengan
menempatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai komponen utama
pertahanan, didukung oleh komponen cadangan dan komponen pendukung,
terutama dalam hal menghadapi bentuk ancaman militer. Sedangkan dalam
menghadapi ancaman non militer, sistem pertahanan menempatkan lembaga
pemerintah di luar bidang pertahanan sebagai unsur utama, sesuai dengan
bentuk dan sifat ancaman yang dihadapi.
Berdasar pada unsur Ketahanan Nasional di atas, kita dapat membuat
rumusan kuantitatif tentang kondisi ketahanan suatu wilayah. Model
Ketahanan Nasional dengan delapan gatra (Asta Gatra) ini secara matematis
dapat digambarkan sebagai berikut (Sunardi, 1997: ) :
K(t) = f (Tri Gatra, Panca Gatra)t atau
= f ( G,D,A), (I,P,E,S,H)t
Keterangan
K(t) = kondisi ketahanan nasional yang dinamis
G = kondisi geografi
D = kondisi demografi
A = kondisi kekayaan alam
I = kondisi sistem ideologi
P = kondisi sistem politik
E = kondisi sistem ekonomi
S = kondisi sistem sosial budaya
H = kondisi sistem hankam
f = fungsi, dalam pengertian matematis
t = dimensi waktu
Mengukur kondisi ketahanan secara holistik tentu saja tidak mudah,
karena perlu membaca, menganalisis dan mengukur setiap gatra yang ada.
Unsur dalam setiap gatrapun memiliki banyak aspek dan dinamika. Oleh
karena itu, kita dapat memulainya dengan mengukur salah satu aspek dalam
gatra ketahanan. Misal mengukur kondisi geografi suatu daerah dalam rangka
mengetahu ketahanan regional daerah yang bersangkutan terkait dengan gatra
wilayah. Adapun aspek dari geografi yang perlu dilihat, dianalisis dan diukur,
misalnya batas dan luas wilayah, daratan atau kepulauan, kondisi cuaca,
potensi bencana alam dan lain sebagainya. Dari hasil tersebut kita dapat
menggambarkan ketahanan daerah yang bersangkutan.
Untuk melakukan pengukuran kondisi Ketahanan Nasional tersebut,
saat ini Lemhanas telah mengembangkan Laboratorium Pengukuran
Ketahanan Nasional (Labkurtannas) yang bertugas mengkaji, menganalisis
dan menggambarkan kondisi ketahanan yang nantinya bisa digunakan sebagai
Early Warning System dan Policy Advice bagi pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah. Namun demikian, upaya mengkaji ketahanan sebagai
kondisi bukan semata-mata tanggung jawab Lemhanas. Kita sebagai warga
negara terutama kaum cendekiawan dapat pula memberi analisis dan
gambaran mengenai kondisi ketahanan suatu wilayah demi kepentingan
kelangsungan hidup bangsa Indonesia.



Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Our Akuntansi


0 komentar:

Post a Comment